Banten

Terungkap! Alasan Megawati Sempat Tak Mau Teken Pencalonan Jokowi Jika Bukan JK Wakilnya

Abdurahman | 20 April 2026, 17:01 WIB
Terungkap! Alasan Megawati Sempat Tak Mau Teken Pencalonan Jokowi Jika Bukan JK Wakilnya
Ilustrasi Megawati dan Jusuf Kalla sedang berbincang serius (dok Ist)

AKURAT BANTEN– Sebuah rahasia besar di balik layar Pilpres 2014 akhirnya terungkap ke publik.

Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), membeberkan fakta mengejutkan mengenai detik-detik pencalonan Joko Widodo (Jokowi) sebagai Presiden Republik Indonesia.

Ternyata, jalan Jokowi menuju kursi RI-1 tidak semulus yang dibayangkan. Ada satu syarat mutlak yang diajukan oleh Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, sebelum ia bersedia memberikan restu resminya.

Baca Juga: Ijazah Jokowi Asli, Firdaus Oiwobo Sentil JK, 'Jangan Terpancing Roy Suryo'

Syarat Mutlak dari Teuku Umar

Dalam keterangannya baru-baru ini, JK mengungkapkan bahwa Megawati sebenarnya memiliki kekhawatiran besar saat hendak mengusung Jokowi.

Meski saat itu elektabilitas Jokowi sedang meroket, Megawati merasa sang Gubernur DKI Jakarta yang baru menjabat dua tahun tersebut masih memerlukan pendamping yang sangat berpengalaman.

JK menceritakan momen krusial tersebut dengan nada bicara yang tegas, mengingatkan kembali peran vitalnya sebagai "penjaga" stabilitas di masa transisi tersebut.

Ibu Mega kasih tahu saya, dia tidak mau teken (mencalonkan Jokowi) kalau saya tidak wakilnya. Beliau bilang, 'Pak JK yang paling berpengalaman, bimbinglah dia'. Saya sebenarnya mau pulang kampung ke Makassar, tapi Ibu Mega minta saya dampingi karena beliau (Jokowi) dianggap belum berpengalaman. — Jusuf Kalla

Baca Juga: Terungkap! Alasan Sebenarnya JK 'Bongkar Kartu' Soal Jasa Besarnya Terhadap Karier Politik Jokowi

Bimbingan "Sang Senior" untuk Sang Pendatang Baru

Pengakuan JK ini memberikan perspektif baru dalam sejarah politik Indonesia.

JK menegaskan bahwa bukan Jokowi yang memilihnya sebagai Wakil Presiden, melainkan Megawati yang "memaksanya" untuk tetap berada di pusat kekuasaan demi mengawal jalannya pemerintahan.

JK juga mengingatkan bahwa ialah sosok yang membawa Jokowi dari Solo ke panggung panas Ibu Kota sebagai calon Gubernur DKI Jakarta pada 2012.

Baginya, mata rantai keberhasilan Jokowi tidak bisa dilepaskan dari peran besar yang ia mainkan di tahap-tahap awal.

Kasih tahu semua itu buzzer-buzzer, Jokowi tidak akan jadi Gubernur kalau bukan saya yang bawa ke Jakarta. Dia jadi Presiden pun karena saya ada di sampingnya sebagai wakil yang berpengalaman.

Baca Juga: Jokowi Tegaskan Ijazah Asli Hanya Dibuka di Pengadilan, Tanggapi Permintaan JK dengan Sikap Tegas

Reaksi Keras Relawan: "Ini Mandat Rakyat!"

Pernyataan "buka-bukaan" JK ini langsung memicu reaksi keras dari kubu relawan.

Projo, organisasi relawan pendukung setia Jokowi, menepis narasi bahwa kemenangan Jokowi hanyalah jasa satu orang.

Sekjen Projo, Freddy Alex Damanik, menegaskan bahwa meskipun mereka menghormati jasa JK sebagai tokoh bangsa, namun mereduksi kemenangan demokrasi menjadi klaim personal adalah tindakan yang tidak tepat.

"Kemenangan Pak Jokowi adalah mandat rakyat. Demokrasi kita bukan milik individu, melainkan kerja kolektif jutaan rakyat yang percaya pada perubahan," ujar Freddy.

Baca Juga: Tak Mau Didikte JK, Jokowi Akhirnya Meledak Soal Polemik Ijazah: Pembuktian Itu di Pengadilan!

Dinamika "King Maker" di Pusaran Kekuasaan

Polemik ini muncul ke permukaan sebagai respons JK atas tudingan miring yang menyerang pribadinya terkait isu ijazah palsu Presiden.

Namun, dampak dari pernyataan JK ini jauh lebih luas—ia seolah ingin menegaskan kembali posisinya sebagai King Maker yang selama ini berada di balik layar kesuksesan para pemimpin nasional.

Kini, dengan terbukanya tabir sejarah 2014 ini, publik diingatkan bahwa di balik setiap kemenangan politik yang fenomenal, selalu ada negosiasi meja makan dan strategi matang dari para tokoh senior yang menentukan arah masa depan bangsa.(**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman